Pergerakan IHSG Rabu 18 Februari 2026 dan Rekomendasi Saham untuk Investor

Rabu, 18 Februari 2026 | 13:45:34 WIB
Pergerakan IHSG Rabu 18 Februari 2026 dan Rekomendasi Saham untuk Investor

JAKARTA - Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dalam sepekan terakhir menunjukkan fase pemulihan teknikal setelah sempat tertekan akibat kebijakan interim freeze rebalancing oleh Morgan Stanley Capital International (MSCI).

Namun, penguatan tersebut dinilai belum sepenuhnya mencerminkan kembalinya kepercayaan investor terhadap pasar saham Indonesia. Data perdagangan menunjukkan adanya perbaikan performa indeks, tetapi tekanan dari arus dana asing masih menjadi faktor yang membayangi arah pasar dalam jangka pendek.

Berdasarkan data dari Bursa Efek Indonesia (BEI), IHSG pada periode 9–13 Februari 2026 menguat 3,49% dan ditutup di level 8.212,271, dibandingkan posisi pekan sebelumnya di 7.935,260. Selain itu, rata-rata frekuensi transaksi harian meningkat tipis 0,37% menjadi 2,74 juta kali transaksi, dari sebelumnya 2,73 juta transaksi. Meski terlihat positif, dinamika ini belum sepenuhnya diikuti oleh perbaikan sentimen jangka menengah.

IHSG Menguat, Namun Sentimen Pasar Belum Pulih Penuh

Kepala Riset sekaligus Chief Economist Mirae Asset Sekuritas, Rully Arya Wisnubroto, menilai penguatan IHSG tersebut belum dapat diartikan sebagai pemulihan menyeluruh terhadap transparansi dan kredibilitas pasar saham nasional. Hal ini tercermin dari masih berlanjutnya aksi jual bersih oleh investor asing, khususnya pada saham-saham berkapitalisasi besar seperti PT Bank Central Asia Tbk (BBCA).

“Untuk saat ini, kami belum melihat tanda-tanda penguatan yang berkelanjutan, meskipun regulator dan bursa telah mengeluarkan sejumlah kebijakan guna memperbaiki persepsi, kredibilitas, serta tingkat investabilitas pasar," ujarnya.

Kondisi ini mengindikasikan bahwa pasar masih berada dalam fase penyesuaian, di mana investor menunggu kepastian lanjutan terkait kebijakan dan arah pasar global. Penguatan indeks lebih banyak dipicu oleh aksi beli jangka pendek, bukan oleh arus dana masuk yang konsisten.

Tekanan Investor Asing Masih Berlanjut

Sebelum MSCI mengumumkan keputusan final terkait status pasar saham Indonesia, volatilitas IHSG diperkirakan masih relatif tinggi. Data BEI menunjukkan bahwa hingga akhir pekan lalu, investor asing mencatatkan jual bersih sebesar Rp2,03 triliun. Secara kumulatif sejak awal 2026, nilai jual bersih asing telah mencapai Rp16,49 triliun.

Fenomena ini memperlihatkan kehati-hatian investor global dalam merespons perkembangan pasar domestik. Aksi jual tersebut terutama terjadi pada saham-saham unggulan yang sebelumnya menjadi andalan aliran dana asing. Dalam kondisi seperti ini, pelaku pasar domestik cenderung lebih selektif dalam menentukan posisi investasi.

Prospek Jangka Pendek Masih Fluktuatif

Rully memperkirakan arah IHSG dalam jangka pendek masih berpotensi bergerak fluktuatif. Faktor utama yang memengaruhi adalah ketidakpastian keputusan MSCI, dinamika arus modal global, serta sentimen eksternal seperti prospek penurunan suku bunga oleh Federal Reserve dan pergerakan harga komoditas dunia.

Di sisi global, ekspektasi pelonggaran kebijakan moneter oleh bank sentral utama dapat menjadi pendorong sentimen positif, tetapi pengaruhnya terhadap pasar domestik tetap bergantung pada stabilitas kebijakan dan kepercayaan investor. Sementara itu, pergerakan harga komoditas juga menjadi variabel penting mengingat peran sektor berbasis sumber daya alam dalam struktur IHSG.

Dari dalam negeri, peluang penguatan tetap terbuka apabila kebijakan pemerintah dan regulator mampu mempertegas komitmen terhadap peningkatan tata kelola serta likuiditas pasar. Stabilitas makroekonomi yang relatif terjaga, inflasi rendah, serta potensi penurunan suku bunga acuan Bank Indonesia dinilai dapat menjadi katalis positif bagi saham-saham berorientasi domestik.

Strategi Investor: Selektif dan Menunggu Kepastian

“Namun demikian, kami melihat investor akan tetap selektif hingga terdapat kepastian lebih lanjut mengenai status Indonesia dalam klasifikasi pasar MSCI serta arah kebijakan moneter global,” ujar Rully.

Dalam kondisi pasar yang belum sepenuhnya stabil, strategi yang banyak disarankan adalah fokus pada saham dengan fundamental kuat, likuiditas tinggi, dan eksposur terhadap sektor domestik yang relatif tahan terhadap gejolak eksternal. Saham-saham perbankan, konsumsi, serta infrastruktur berpotensi menjadi pilihan defensif sekaligus peluang jangka menengah.

Bagi investor jangka pendek, pergerakan IHSG yang fluktuatif dapat dimanfaatkan untuk strategi trading dengan tetap memperhatikan manajemen risiko. Sementara bagi investor jangka panjang, periode volatilitas ini dapat menjadi momentum untuk mengoleksi saham berkualitas dengan valuasi yang lebih menarik.

Secara keseluruhan, penguatan IHSG dalam sepekan terakhir memberikan sinyal awal pemulihan teknikal, tetapi belum cukup kuat untuk disebut sebagai tren kenaikan yang solid. 

Selama tekanan jual asing masih berlanjut dan keputusan MSCI belum final, pasar diperkirakan akan bergerak dalam rentang terbatas dengan kecenderungan naik-turun mengikuti sentimen global dan domestik. Investor pun dihadapkan pada pilihan untuk tetap waspada, menjaga portofolio secara selektif, dan menunggu konfirmasi arah pasar yang lebih jelas dalam waktu dekat.

Terkini